Dwiyuni's Blog

Mencari Jati Diri Yang Abadi

Cegah Longsor dengan Salak

Cegah Longsor dengan Salak


Solo (ANTARA News) – Tim peneliti Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Sebelas Maret Surakarta merekomendasikan agar daerah bencana erosi dan tanah longsor di Desa Beruk dan Desa Wonorejo, Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, ditanami pohon salak.

“Untuk tanaman ini memiliki perakaran yang kuat, tajuk lebar, mampu menahan percikan air hujan dan biomasnya relatif ringan sehingga tidak membebani tanah dengan tingkat kemiringan lereng tinggi,” kata salah satu tim peneliti LPPM UNS Prof Dr Ir Nandariyah MS, usai meninjau hasil penelitian di Desa Wonorejo, Kabupaten Karanganyar, Rabu.
Baca lebih lanjut

25 Oktober 2010 Posted by | Bencana Alam | Tinggalkan komentar

Politik disposabilitas di saat bencana

Politik disposabilitas di saat bencana

BENCANA demi bencana terus menghantam negeri ini. Banjir, tanah longsor, gempa bumi, gunung meletus, dan tsunami menjadi serangkaian jenis bencana yang terdengar akrab di telinga kita. Salah satu peristiwa bencana aktual adalah banjir di Wasior, Papua Barat. Respon yang ditunjukkan pemerintah sedemikian lambat.

Bukan hal yang aneh jika Ifdhal Kasim, Ketua Komnas HAM, menyatakan bahwa kepekaan pemerintah terhadap proteksi, mitigasi, hingga penanggulangan bencana masih lemah. ”Dengan demikian, bencana banjir Wasior bukan hanya sekadar manifestasi aktivitas geofisikal biasa tapi juga terkait erat pula praktik-praktik kelalaian dari struktur negara,” ujarnya (Wawasan, 15 Oktober 2010).
Baca lebih lanjut

25 Oktober 2010 Posted by | Bencana Alam | Tinggalkan komentar

Belajar dari Bencana


Belajar dari Bencana
Oleh: Iwan Ardhie Priyana

Tuhan telah menegurmu
Tuhan telah menegurmu
Tuhan telah menegurmu
dengan cukup sopan
lewat perut anak-anak yang
kelaparan
Tuhan telah menegurmu
dengan cukup sopan
lewat semayup suara azan
Tuhan telah menegurmu
dengan cukup menahan kesabaran
lewat gempa bumi yang berguncang
deru angin yang meraung-raung kencang
hujan dan banjir yang
melintang pukang
adakah kaudengar?
(Apip Mustopa)

BENCANA, lagi-lagi bencana. Itulah berita memilukan yang kita dengar akhir-akhir ini. Bencana demi bencana terjadi susul menyusul secara estafet. Belum selesai meratapi bencana tanah longsor di sini, kita pun harus menangis melihat bencana banjir di sana. Tak lama kemudian kita harus tergiris pula mendengar gempa bumi di daerah lain.
Baca lebih lanjut

25 Oktober 2010 Posted by | Bencana Alam | Tinggalkan komentar

MDGs dan Pengurangan Risiko Bencana

MDGs dan Pengurangan Risiko Bencana
Rabu, 20 Oktober 2010 | 01:29 WIB

Oleh : Hendra Syahputra1) & Nani Eliza2)

SEMANGAT Millenium Development Goals (MDGs) yang ditujukan untuk pembangunan Milenium, terus didengungkan oleh 192 anggota PBB. Ditinjau  secara kuantitatif  mesti dicapai dalam jangka waktu tertentu, terutama persoalan penanggulangan kemiskinan pada tahun 2015, cita-cita delapan tujuan pembangunan milenium ini juga semakin disemangati dengan cita-cita pengurangan risiko bencana di dunia. Tujuan ini dirumuskan dari ‘Deklarasi Milenium’,  dimana Indonesia menjadi salah deklator dari 189 negara yang ditandatangani pada September 2000.

Delapan Tujuan Pembangunan Milenium juga menjelaskan mengenai tujuan pembangunan manusia, yang secara langsung juga dapat memberikan dampak bagi penanggulangan kemiskinan ekstrim. Masing-masing tujuan MDGs terdiri dari target-target yang memiliki batas pencapaian minimum yang harus dicapai Indonesia pada 2015.
Baca lebih lanjut

25 Oktober 2010 Posted by | Bencana Alam | Tinggalkan komentar

Menyikapi Bencana, Antara Azab dan Ujian

Menyikapi Bencana, Antara Azab dan Ujian
• Oleh : Ulya Hikmah Pane, Lc

Seperti tidak pernah putus-putusnya bencana melanda kita, dari barat sampai ke Timur Negeri ini, seluruhnya mungkin pernah merasakannya. Berbagai macam anggapan yang beredar di tengah masyarakat.

Ketika bencana datang terkadang menimbulkan korban serta kerugian yang begitu besar, seperti gempa bumi, tanah longsor, gunung meletus, banjir, tsunami, kecelakaan lalu lintas baik di darat, di udara maupun di laut dan sebagainya.

Baru-baru ini muncul lagi bencana yang serupa banjir besar menghancurkan kota Wasior di Papua juga menelan korban yang begitu besar. Kemudian adalagi banjir yang sudah menjadi langganan, setiap tahun mewarnai ibu kota Jakarta seperti tidak pernah ada kesudahannya.

Sebagai seorang Muslim kita harus lebih waspada dan banyak-banyak beristighfar kepada Allah SWT, sebab setiap bencana yang melanda negeri ini sudah pasti ada hubungannya dengan prilaku kita sehari-hari.
Baca lebih lanjut

25 Oktober 2010 Posted by | Bencana Alam | Tinggalkan komentar

Menata Siklus Manajemen Penanganan Bencana

Menata Siklus Manajemen Penanganan Bencana
Oleh : Bhakti Dharma MT

Buruknya dampak yang ditimbulkan dari sebuah bencana khususnya bencana alam tentu memaksa manusia untuk selalu berusaha menghindari kedatangan bencana.

Namun karena kedatangannya yang sulit diprediksi, maka tidak jarang korban jiwa menjadi tidak terhindarkan. Bencana, khususnya bencana alam, merupakan malapetaka yang seakan-akan datang tiba-tiba, dan acapkali tidak dapat diperkirakan secara akurat. Gempa bumi, air bah, angin puting beliung, menerjang secepat kilat; menghantam dan meluluh-lantakkan segala sesuatu yang menghadang, dan kemudian secepat itu pula pergi meninggalkan jejak berupa kerusakan alam dan kehidupan umat manusia.

Segala kemudahan hidup yang telah dibangun dan dipelihara manusia selama berpuluh hingga ratusan tahun, segala jerih payah yang telah diberikan para leluhur dan yang dihidupkan serta dihidupi anak-keturunannya seakan-akan tidak berdaya, masyarakat yang tertimpa bencana jadi lumpuh total. Bencana merontokkan topeng keangkuhan manusia, sehingga terkuak wajah asli manusia sebagai mahluk yang sangat rapuh di hadapan dahsyatnya kekuatan alam.
Baca lebih lanjut

25 Oktober 2010 Posted by | Bencana Alam | Tinggalkan komentar

Bencana Wasior, Kesalahan yang Terulang?

Bencana Wasior, Kesalahan yang Terulang?
Oleh : Syahrin Lumbantoruan

Bencana alam adalah konsekuensi dari kombinasi aktivitas alami suatu peristiwa fisik, seperti letusan gunung, gempa bumi, tanah longsor dan aktivitas manusia.

Karena ketidakberdayaan manusia, akibat kurang baiknya manajemen keadaan darurat, sehingga menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan dan struktural, bahkan sampai kematian. Kerugian yang dihasilkan tergantung pada kemampuan untuk mencegah atau menghindari bencana.

Mungkin tidak pernah hadir dan terbayangkan dalam benak kita bahwa Papua akan diserang oleh bencana, dimana telah meluluh lantakkan alam dan segala isinya dalam terjangan dahsyat banjir bandang. Senin 08.30, murka alam mendatangkan banjir bandang luapan air Sungai Batang Silai menerjang 80% kota Wasior kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat. hingga Jumat (9/10/2010) malam, tercatat 126 tewas dan 76 orang masih dinyatakan hilang dan 800 luka-luka.
Baca lebih lanjut

25 Oktober 2010 Posted by | Bencana Alam | Tinggalkan komentar

75 Persen Kabupaten-Kota di Indonesia Belum Miliki BPBD

75 Persen Kabupaten-Kota di Indonesia Belum Miliki BPBD
Rabu, 13 Oktober 2010 16:51 WIB
Yogyakarta, (tvOne).

Deputi Pencegahan Kesiapsiagaan Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sugeng Tri Utomo mengatakan, hingga kini baru 125 dari 500 atau 75 persen dari kabupaten dan kota di Indonesia yang memiliki Badan Penanggulangan Bencana Daerah.

“Padahal, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) merupakan salah satu instrumen penting untuk penanggulangan risiko bencana dari pusat ke daerah,” katanya di sela seminar “Perubahan Iklim di Indonesia” di Fakultas Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Rabu, (13/10).

Menurut Sugeng, pembentukan BPBD telah diamanatkan dalam undang-undang (UU), dan pembentukannya merupakan kewenangan masing-masing daerah. UU mengharuskan pembentukan badan penanggulangan risiko bencana dan pemerintah daerah membentuk BPBD. Baca lebih lanjut

25 Oktober 2010 Posted by | Bencana Alam | Tinggalkan komentar

Bencana Alam “Mengendus” Gempa Melalui Perilaku Ular

Bencana Alam “Mengendus” Gempa Melalui Perilaku Ular

snake_2Bagai selebritas di lensa paparazi, begitupun nasib ular-ular di kawasan Nanning, sebelah utara Provinsi Guangxi, China. Dua puluh empat jam sehari, para peneliti pada Biro Penelitian Gempa Bumi di Nanning dapat mengamati gerak-gerik ular melalui monitor khusus yang terhubung jaringan internet. Perilaku ular bagi para peneliti di sana sangat istimewa. Mereka yakin indera penciuman ular mampu “mengendus” gempa dari jarak 120 kilometer, atau lebih dari lima hari sebelum terjadi gempa. Ular yang menangkap “sinyal” pertanda akan terjadinya gempa terlihat dari perilakunya yang aneh. Ular-ular akan keluar sarangnya sekalipun pada musim dingin. Bila gempa bumi akan besar, ular pun nekat menabrakkan tubuh pada dinding atau penghalang lain untuk melarikan diri. “Melalui kamera-kamera yang dipasang di beberapa sarang ular, Baca lebih lanjut

14 November 2009 Posted by | Bencana Alam | 14 Komentar

Jika gempa bumi menguncang secara tiba-tiba

Jika gempa bumi menguncang secara tiba-tiba, berikut ini 10 petunjuk yang dapat dijadikan pegangan di manapun Anda berada.

Di Dalam Rumah
Getaran akan terasa beberapa saat. Selama jangka waktu itu, anda harus mengupayakan keselamatan diri anda dan keluarga anda. Masuklah ke bawah meja untuk melindungi tubuh anda dari jatuhan benda-benda. Jika anda tidak memiliki meja, lindungi kepala anda dengan bantal.
Jika anda sedang menyalakan kompor, maka matikan segera untuk mencegah terjadinya kebakaran.

Di Sekolah
Berlindunglah di bawah kolong meja, lindungi kepala dengan tas atau buku, jangan panik, jika gempa mereda keluarlah berurutan mulai dari jarak yang terjauh ke pintu, carilah tempat lapang, jangan berdiri dekat gedung, tiang dan pohon.
Baca lebih lanjut

8 September 2009 Posted by | Bencana Alam | 1 Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.