Dwiyuni's Blog

Mencari Jati Diri Yang Abadi

Bencana Alam dan Musibah Lainnya

Bencana Alam dan Musibah Lainnya

tsunami3Dalam obrolan santai dengan seorang teman, ia mengeluhkan banyaknya bencana dan musibah yang belakangan datang ke kita. Mulai dari badai, gempa bumi, banjir, kekeringan, kecelakaan, flu burung, demam berdarah, dan masih banyak lagi. Jelas, semua memakan korban jiwa yang tak sedikit. Nyawa jadi terkesan “murah” harganya.

Beliau juga bilang bahwa sebenarnya setiap musibah sudah dituliskan Tuhan. Menurut beliau, setiap detil kejadian sudah terencana dengan rapi. Tuhan punya buku yang mencatat bahwa akan terjadi bencana alam pada tanggal sekian di tempat sekian dengan korban sekian dan seterusnya. Statemen ini diperkuat oleh firman:

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
~Al Hadiid 22

Well, apa yang dikatakan teman saya itu memang benar — walau tidak sepenuhnya tepat. Kenapa?

Pertama. Yang sebenarnya tercatat dalam Lauhul Mahfuzh sebenarnya hanyalah sebuah sistem atau prosedur standar, bukan skenario detil seperti yang teman saya utarakan. Lauhul Mahfuzh hanya menuliskan kalau X berbuat kebaikan, akan mendapatkan reward. Sementara kalau berbuat banyak kemunkaran maka akan diperingatkan dengan musibah. Kalau perbuatannya ini, imbalannya berbentuk ini. Kalau perbuatannya itu, peringatannya berbentuk itu.

Sama halnya kalau suatu bangsa (negara) masyarakatnya baik dan rukun, tentu akan banyak rahmat yang tercurah. Tapi sebaliknya, kalau anggota bangsanya mulai ngawur, akan banyak kiriman bencana. Kalau kebaikannya berupa ini, maka rahmatnya berbentuk ini. Kalau kesalahannya itu, maka bencananya berbentuk itu. Hal ini dinyatakan jelas dalam firman berikut ini.images1

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).
~Asy Syuura 30

Kedua. Adalah tidak mungkin Tuhan merencanakan setiap aktivitas kehidupan makhluknya (manusia) secara detil. Misal saya tanggal sekian akan menikah dengan A. Kemudian tanggal sekian saya akan ketiban rejeki. Saya jatuh sakit pada tanggal sekian. Tapi pada tanggal sekian dikaruniai anak, sekian perempuan sekian laki-laki. Tuhan kok kurang kerjaan amat.

Kalau semuanya memang sudah diskenariokan (termasuk bencana alam dan musibah lainnya), buat apa kitab suci (Al Qur’an) diturunkan? Orang yang dimuliakan seperti nabi/rasul memang jalan hidupnya sudah diskenariokan. Kapan harus syiar, kapan harus berperang, termasuk kapan harus menikah.

Tapi orang-orang penuh dosa seperti kita ini selalu diberi pilihan yang tentatif. Mau berbuat baik atau mau berbuat dosa. Masing-masing dengan konsekuensinya tersendiri. Ini sudah jelas dinyatakan dalam:

resize-of-gempa_2Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
~Ar Ra’d 11

Sederhananya, kalau kita berusaha, ya kita bakal dapat reward yang memuaskan. Tapi sebaliknya, kalau kita banyak melakukan sesuatu yang tidak seharusnya, jelas bakal mendapat punishment. Seberapa cepat reward dan punishment itu diberikan tergantung pada bagaimana effort kita.

Dan satu lagi. Ada baiknya buat kita supaya jangan merasa bahwa setiap bencana, musibah, atau ketidaknikmatan lain yang jatuh ke kita adalah pengurang atau penghapus dosa. Ini pernyataan yang tidak valid.

Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.
~An Nisaa’ 111

Jangan berasumsi bahwa kita sudah beriman dan bertakwa di hadapan-Nya. Bencana alam dan musibah yang bertubi-tubi ini seharusnya cukup menjadi peringatan buat kita supaya kita banyak-banyak memperbaiki dosa dan kesalahan kita.

Mulai sekarang saatnya kita menjalani hidup dengan lebih baik dan benar. Nggak perlu lagi pakai gontok-gontokan, emosi yang meledak tinggi, egoisme pada kepentingan sendiri, dan rasa kebencian terhadap sesama. Sudah saatnya kita sama-sama hidup dalam keserasian yang harmonis dan tanggung jawab yang proporsional.

Mudah-mudahan banyaknya peringatan yang begitu berat dan tidak menyenangkan ini bisa segera berakhir dan digantikan dengan limpahan rahmat yang maha luas. Amin.

Sekian renungan buat hari ini.

18 Februari 2009 - Posted by | Bencana Alam

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: