Dwiyuni's Blog

Mencari Jati Diri Yang Abadi

Belajar dari Bencana


Belajar dari Bencana
Oleh: Iwan Ardhie Priyana

Tuhan telah menegurmu
Tuhan telah menegurmu
Tuhan telah menegurmu
dengan cukup sopan
lewat perut anak-anak yang
kelaparan
Tuhan telah menegurmu
dengan cukup sopan
lewat semayup suara azan
Tuhan telah menegurmu
dengan cukup menahan kesabaran
lewat gempa bumi yang berguncang
deru angin yang meraung-raung kencang
hujan dan banjir yang
melintang pukang
adakah kaudengar?
(Apip Mustopa)

BENCANA, lagi-lagi bencana. Itulah berita memilukan yang kita dengar akhir-akhir ini. Bencana demi bencana terjadi susul menyusul secara estafet. Belum selesai meratapi bencana tanah longsor di sini, kita pun harus menangis melihat bencana banjir di sana. Tak lama kemudian kita harus tergiris pula mendengar gempa bumi di daerah lain.

Terakhir, kita mendengar bencana banjir bandang yang melanda Kota Wasior di Papua Barat. Berdasarkan data terakhir yang dilansir sebuah media sampai dengan tanggal 10 Oktober 2010, korban yang meninggal mencapai 124 orang, 123 orang dinyatakan hilang, serta ribuan lagi terpaksa kehilangan harta benda dan tempat tinggal. Jumlah korban meninggal maupun yang hilang tentu akan bertambah lagi mengingat saat ini masih dilakukan evakuasi dan pencarian terhadap korban. Di samping kerugian jiwa yang tidak ternilai, setiap bencana alam menimbulkan kerugian materi yang sangat besar, di samping tentu saja meninggalkan luka yang mendalam bagi korban yang mengalaminya.

Dilihat dari jumlah korban meninggal dan hilang yang cukup banyak, bencana banjir bandang di Kota Wasior tersebut sudah pasti mendapat perhatian semua pihak. Salah satu stasiun TV swasta bahkan ada yang membandingkan bencana banjir bandang itu sebagai tsunami kecil. Masyarakat luas umumnya serta para korban, berharap kepada pemerintah pusat agar segera mengambil langkah-langkah nyata untuk menanggulangi akibat banjir tersebut. Setidaknya, ada tiga aspek yang harus memperoleh penanganan cepat, yakni bantuan logistik berupa makanan, pakaian, dan obat-obatan, bantuan kesehatan untuk korban yang mengalami luka-luka, pemulihan psikis akibat trauma serta perbaikan infrastruktur dan prasarana umum untuk memudahkan akses bantuan. Sejauh ini upaya tersebut belum tampak, pemerintah melalui staf presiden bidang penanggulangan bencana malah sibuk menangkis tudingan dari LSM pemerhati lingkungan hidup, yang menuduh bahwa banjir bandang tersebut akibat illegal logging yang dilakukan secara besar-besaran. Sementara pihak pemerintah membantah hal itu, dengan beralasan bahwa banjir tersebut disebabkan tingginya intensitas curah hujan sehingga mengakibatkan luapan air dari sungai di daerah tersebut.

Lamban

Pemberian bantuan bagi korban bencana alam, pemerintah pusat maupun daerah seringkali terkesan lambat, sehingga banyak mengundang kritik serta kecaman baik dari LSM maupun dari pihak korban. Pemerintah sering berdalih bahwa pemberian bantuan bagi korban terkait dengan payung hukum yang mengatur mekanisme pemberian batuan tersebut. Sering kali pemerinah berkesan terlalu berhati-hati. Hal ini memang cukup beralasan karena bantuan sosial tersebut dapat saja menjadi bencana tersendiri bagi pemeritah. Ada banyak kasus pejabat pemerintah yang terpaksa berurusan dengan hukum gara-gara kasus batuan sosial tersebut. Sejumlah mantan anggota DPRD di Kab. Bandung, serta mantan Mensos Bachtiar Chamsah adalah dua contoh kasus bantuan sosial yang menyeret mereka pada masalah hukum.

Hal tersebut berbeda dengan pihak swasta maupun badan-badan nonpemerintah yang biasanya lebih sigap melakukan gerakan pengumpulan sumbangan serta pembukaan posko bantuan, sehingga penderitaan korban tidak sampai berlarut-larut, dan cepat tertanggulangi.

Kelambanan pemerintah dalam hal penanggulangan bencana tersebut, pada gilirannya sering dimanfaatkan oleh pihak lain terutama partai politik sebagai komoditas politik. Baik dengan cara mengeluarkan pernyataan maupun melalui aksi sosial. Tidak sedikit pula pemberian bantuan tersebut diiringi agenda tersembunyi berupa kampanye terselubung menjelang kegiatan pemilihan umum maupun pemilihan kepala daerah. Yang tak kalah mengenaskannya adalah, adanya pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan bantuan sumbangan tersebut untuk kepentingan yang tidak semestinya. Berita penyelewengan bantuan bencana alam ramai diberitakan beberapa media lokal terkait bencana gempa bumi. Ini kenyataan memprihatinkan. Sebab masih ada pihak yang mengambil keuntungan di tengah penderitaan orang lain.

Pembelajaran

Bencana alam, apa pun bentuknya, tentu mengundang keprihatinan kita semua. Manusia tidak memimiliki kemampuan untuk memprediksi kapan datangnya bencana, setinggi apa pun ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh mansusia. Bencana alam harusnya menjadi pembelajaran semua pihak. Manusia harus belajar dari bencana sebelumnya yang memang terjadi akibat ulah manusia. Juga pembelajaran agar kita mampu menyusun manajemen penanggulangan bencana yang cepat dan tepat. Sehingga derita yang dialami korban tidak berkepanjangan. Di samping itu, pembelajaran dilihat dari perspektif agama, yakni bencana alam merupakan cara Tuhan menujukkan kuasa kepada umat-Nya. Oleh karena itu manusia harus menyadari bahwa selama ini “Tuhan telah menegur dengan cukup menahan kesabaran” sebagaimana pesan yang disampaikan penyair Apip Mustopa lewat puisi “Tuhan Telah Menegurmu” di atas. Adakah kau dengar? Entahlah. (Penulis guru SMPN 1 Nagreg dan SMP YP 17 Nagreg, pengelola Bapinger Education Cicalengka)**

http://www.klik-galamedia.com/indexnews.php?wartakode=20101021092839&idkolom=opinipendidikan

25 Oktober 2010 - Posted by | Bencana Alam

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: