Dwiyuni's Blog

Mencari Jati Diri Yang Abadi

Cegah Longsor dengan Salak

Cegah Longsor dengan Salak


Solo (ANTARA News) – Tim peneliti Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Sebelas Maret Surakarta merekomendasikan agar daerah bencana erosi dan tanah longsor di Desa Beruk dan Desa Wonorejo, Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, ditanami pohon salak.

“Untuk tanaman ini memiliki perakaran yang kuat, tajuk lebar, mampu menahan percikan air hujan dan biomasnya relatif ringan sehingga tidak membebani tanah dengan tingkat kemiringan lereng tinggi,” kata salah satu tim peneliti LPPM UNS Prof Dr Ir Nandariyah MS, usai meninjau hasil penelitian di Desa Wonorejo, Kabupaten Karanganyar, Rabu.

Di Desa Beruk dan Desa Wonorejo, Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, pada akhir tahun 2007 pernah terjadi bencana erosi dan tanah longsor yang merenggut korban jiwa.

Menurut Nandariyah, penelitian ini juga untuk mengetahui jenis-jenis kultivar salak (Salacca zalacca Gaertn Voss) yang sesuai untuk dibudidayakan dan mempunyai kemampuan menahan erosi tanah dan longsor, serta daya produksi yang baik.

Tim peneliti merekomendasikan antara lain pembuatan teras-teras bangku, penanaman menurut garis kontur, penanaman pohon penguat di bibir teras dan memperhatikan tanaman pokok yang memperkuat konstruksi tanah agar lebih tahan terhadap bahaya erosi dan longsor.

“Salah satu tanaman konservasi yang berpotensi dikembangkan yaitu pohon salak,” kata Nandariyah.

Kepala Desa Wonorejo, Kecamatan Jatiyos, Kabupaten Karanganyar Sudrajad, mengatakan, dalam rangka konservasi lahan yang dilakukan bekerja sama dengan UNS untuk di daerahnya telah ditanami pohon salak sebanyak 6.000 batang di Wonorejo dan 2.500 batang di Beruk.

Pohon salak tersebut ditanam di tiga atas hektar tanah dan saat ini berumur satu tahun seta diperkirakan tahun 2013 berbuah.

Bibit salak berasal dari Sleman yang harganya antara Rp5.000 sampai Rp7.000 per batang. Ada enam hektar lahan milik petani yang siap ditanami salak.

Lahan tersebut memiliki kemiringan 80 derajat. Sekitar 80 hektare perlu konservasi. “Lahan seluas ini menunggu untuk ditangani,” kata Sudrajad.
(J005/A041)

COPYRIGHT © 201

25 Oktober 2010 - Posted by | Bencana Alam

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: