Dwiyuni's Blog

Mencari Jati Diri Yang Abadi

Menyikapi Bencana, Antara Azab dan Ujian

Menyikapi Bencana, Antara Azab dan Ujian
• Oleh : Ulya Hikmah Pane, Lc

Seperti tidak pernah putus-putusnya bencana melanda kita, dari barat sampai ke Timur Negeri ini, seluruhnya mungkin pernah merasakannya. Berbagai macam anggapan yang beredar di tengah masyarakat.

Ketika bencana datang terkadang menimbulkan korban serta kerugian yang begitu besar, seperti gempa bumi, tanah longsor, gunung meletus, banjir, tsunami, kecelakaan lalu lintas baik di darat, di udara maupun di laut dan sebagainya.

Baru-baru ini muncul lagi bencana yang serupa banjir besar menghancurkan kota Wasior di Papua juga menelan korban yang begitu besar. Kemudian adalagi banjir yang sudah menjadi langganan, setiap tahun mewarnai ibu kota Jakarta seperti tidak pernah ada kesudahannya.

Sebagai seorang Muslim kita harus lebih waspada dan banyak-banyak beristighfar kepada Allah SWT, sebab setiap bencana yang melanda negeri ini sudah pasti ada hubungannya dengan prilaku kita sehari-hari.

Apakah yang sudah kita lakukan terhadap Bangsa ini dan mengapa bencana ini terjadi dan berulang kali menerpa kita, semua ini menjadi tanda tanya dan perlu introspeksi yang mendalam untuk menemukan jawabannya. Bencana atau musibah yang melanda, lantas tidak hanya membuat kita latah dan tidak terima dengan keadaan ini, Allah SWT menurunkan bencana ini pasti tidak sia-sia dan percuma, ada hikmah besar yang terkandung di setiap kejadian bagi orang-orang yang mau berfikir.

Bencana yang Allah SWT turunkan ini belumlah seberapa dengan yang terjadi terhadap generasi terdahulu, dikarenakan mereka ingkar, kufur dan tidak mau beriman kepada Allah SWT, seperti yang digambarkan dalam al-Qur’an surah Hud ayat 42-45. Allah menimpakan azab kepada mereka yang kufur dengan banjir yang sangat besar. Bahkan, al-Qur’an menggambarkan banjir itu datang dengan gelombang yang sangat besar seperti gunung.

Masih banyak lagi bencana-bencana lainnya yang Allah SWT timpakan kepada kaum yang ingkar terhadap hukum-hukum-Nya, seperti kaum Nabi Luth, kaum Nabi Musa, Aad, Tsamud, dan Qarun.  Dalam al-Qur’an banyak sekali diceritakan tentang musibah dan bencana yang menimpa orang-orang terdahulu. Semua musibah dan bencana besar yang pernah menimpa manusia diterangkan oleh al-Qur’an adalah selalu terkait dengan kekufuran dan keingkaran manusia itu sendiri kepada Allah SWT.

Al-Qur’an juga mengabarkan bahwa bencana atau musibah itu datang karena perbuatan tangan manusia sendiri yang merusak alamnya. Allah SWT berfirman: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Katakanlah: “Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (QS. ar-Rum: 41-42).

Salah satu penyebab diturunkan azab atau musibah adalah lantaran kebanyakan manusia mendustakan ayat-ayat Allah. Padahal jika kita beriman, Allah akan membukakan pintu-pintu keberkahan baik dari langit maupun dari bumi.

Allah SWT berfirman: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”(QS. al-A’raf: 96).

Kemudian dikarenakan manusia menyekutukan Allah dengan sesuatu (syirik). Allah berfirman: “Hampir-hampir langit pecah Karena Ucapan itu, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh. Karena mereka menda’wakan Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. (QS. Maryam: 90-92).

Allah SWT juga menimpakan bencana kepada kaum yang tidak mau memberikan peringatan kepada orang-orang zalim di antara mereka. Firmannya: “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (QS. al-Anfal: 25).

Ada juga azab dan bencana itu sumbernya dari kemaksiatan yang dilakukan sebagian orang akan tetapi akibatnya dirasakan oleh siapa saja. Di antaranya adalah perbuatan zina dan riba. Rasulullah saw, bersabda: “Tidaklah suatu kaum mereka melakukan dengan terang-terangan berupa riba dan zina, melainkan halal bagi Allah untuk menimpakan azabnya kepada mereka.” (HR. Ahmad) Masih banyak lagi ayat-ayat dan hadits yang memaparkan tentang sebab-sebab terjadinya musibah atau bencana.

Karena itu, atas semua musibah dan bencana yang tengah kita alami saat ini, seharusnya kita mawas diri, apakah ini azab akibat kemaksiatan yang kita lakukan ataukah cobaan untuk meningkatkan ketakwaan kita? Yang pasti, tidak ada waktu lagi bagi kita untuk tidak segera bertaubat. Jangan sampai menunggu bencana yang lebih besar kembali datang memusnahkan kita, ketika bencana itu datang tidak ada lagi kata taubat!

Allah berfirman: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji ….” (QS. al-Ankabut: 2).
Bencana juga adalah alat introspeksi diri dan pelajaran agar manusia dapat lebih baik dalam beribadah kepada Allah SWT. Allah berfirman: “Maka Kami hukumlah Fir`aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim. (QS. al-Qashas: 40).

Selain itu, bencana juga merupakan sarana peningkatan ketakwaan seseorang kepada Allah SWT. Salah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat cobaannya?” Beliau menjawab, “Para nabi, kemudian orang-orang yang seperti para nabi, kemudian orang-orang yang seperti mereka.

Seorang hamba diuji Allah berdasarkan keimanannya. Jika keimanannya kokoh, maka akan semakin berat cobaannya. Namun jika keimanannya lemah, maka ia akan diuji berdasarkan keimanannya tersebut. Dan cobaan tidak akan berpisah dari seorang hamba hingga nanti ia meninggalkan berjalan di muka bumi seperti ia tidak memiliki satu dosa pun.” (HR. Turmudzi).

Terakhir bencana merupakan salah satu bentuk cinta Allah terhadap hamba-Nya. Rasulullah saw bersabda: “…apabila mencintai suatu kaum, Allah menguji mereka. Jika (dengan ujian tersebut) mereka ridha, maka Allah pun memberikan keridhaan-Nya. Dan siapa yang marah (tidak ridha), maka Allah pun marah terhadapnya.” (HR. Turmudzi dan Ibnu Majah). Wallahu a’lam bis shawab…

Penulis alumni Fakultas Dirasat Islamiyah Wal Arabiyah Jurusan Syariah Islamiyah Universitas Al-Azhar Cairo Mesir..

http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=72304:menyikapi-bencana-antara-azab-dan-ujian&catid=85:opini&Itemid=134

25 Oktober 2010 - Posted by | Bencana Alam

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: