Dwiyuni's Blog

Mencari Jati Diri Yang Abadi

Politik disposabilitas di saat bencana

Politik disposabilitas di saat bencana

BENCANA demi bencana terus menghantam negeri ini. Banjir, tanah longsor, gempa bumi, gunung meletus, dan tsunami menjadi serangkaian jenis bencana yang terdengar akrab di telinga kita. Salah satu peristiwa bencana aktual adalah banjir di Wasior, Papua Barat. Respon yang ditunjukkan pemerintah sedemikian lambat.

Bukan hal yang aneh jika Ifdhal Kasim, Ketua Komnas HAM, menyatakan bahwa kepekaan pemerintah terhadap proteksi, mitigasi, hingga penanggulangan bencana masih lemah. ”Dengan demikian, bencana banjir Wasior bukan hanya sekadar manifestasi aktivitas geofisikal biasa tapi juga terkait erat pula praktik-praktik kelalaian dari struktur negara,” ujarnya (Wawasan, 15 Oktober 2010).

Tidak hanya keterlambatan penanganan yang dapat dicatat dari banjir bandang di Wasior. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) baru hadir setelah 11 hari kejadian yang menewaskan banyak manusia itu. Ironisnya, selama tiga jam saja SBY muncul di sana.

Pantas diduga bahwa kehadiran SBY itu merupakan wujud dari sikap politik yang diskriminatif. Wasior jauh dari pusat pemerintahan, sehingga tidak perlu mendapatkan perhatian. Dari segi etnisitas pun penduduk di sana termasuk kelompok minoritas.

Artinya, secara geografis dan etnis, para korban memang pantas diabaikan. Penanganan terhadap korban memang tidak pernah terlepas dari kepentingan politik. Tentu saja masih banyak alasan untuk membenarkan keteledoran negara dalam menangani bencana itu, seperti medan yang amat jauh dan berat untuk dijangkau tim penolong. Peralatan yang tersedia untuk menemukan para korban pun bisa dijadikan dalih berikutnya.

Tapi, semua itu tidak bisa dipakai untuk menjustifikasi kelambanan yang ditunjukkan negara. Setiap korban yang terlindas bencana merupakan manusia yang berstatus sebagai warga yang wajib ditolong negara tanpa pengecualian apa pun.

Jika dibandingkan dengan tragedi Situ Gintung yang terjadi pada akhir Maret 2009, maka penanganan terhadap korban banjir di Wasior amat gampang ditemukan kontradiksinya. Dalam tragedi Situ Gintung, aparat negara terlihat gesit sekali dalam memberikan pertolongan.

Bahkan, saat itu Presiden SBY dan Wakil Presiden Jusuf Kalla hadir langsung untuk meninjau dan memberikan komando bagaimana mengatasi kejadian akibat jebolnya situ yang juga digunakan sebagai tempat berwisata.

Sekian banyak partai politik dan calon anggota legislatif (caleg) turut hadir layaknya peserta karnaval. Mereka mendirikan tenda-tenda dan memberikan bantuan bagi para korban. Banyak personel media massa yang hadir di lokasi untuk meliput peristiwa naas itu. Memberi pertolongan dan mengerahkan bantuan mampu menyajikan efek publisitas yang sedemikian besar.

Persoalannya ialah mengapa tragedi banjir di Wasior dan tragedi Situ Gintung diperlakukan secara sangat berbeda oleh para pejabat negara dan kalangan aktor politik? Jawabannya jelas bahwa tragedi Situ Gintung terjadi bersamaan dengan ritual kontestasi politik.

Pada 2009 itu, para pejabat negara dan kalangan pelaku politik sedang mencari dukungan massa supaya mereka terpilih untuk menduduki kursi-kursi kekuasaan. Sementara itu, tragedi banjir di Wasior bergulir di tengah arena politik yang sepi dari kompetisi untuk memperebutkan jabatan.

Agenda politik
Apa makna semua ini? Korbankorban hanya disentuh dan menda-pat perhatian jika dibutuhkan untuk memenuhi agenda politik yang telah diskenariokan. Korban-korban dihadirkan untuk memenuhi rasionalitas tujuan.

Mereka dijadikan instrumen yang memuluskan kekuasaan dan secara strategis dimanfaatkan untuk melempangkan jalan perpolitikan. Setelah korbankorban tidak lagi dianggap memberikan kegunaan, maka mereka pun dibuang dan dilupakan.

Fenomena inilah yang disebut Henry Giroux sebagai politik disposabilitas (politics of disposability), yaitu politik yang menempatkan orang-orang yang dinilai tidak produktif (orang miskin, kaum lemah, dan figurfigur yang termarginalisasikan) sebagai sesuatu yang tidak berguna dan karena itu tidak berharga lagi untuk disimpan.

Politik semacam ini menganggap seluruh penduduk dapat dibuang begitu saja setelah digunakan. Politik disposabilitas menempatkan para korban sebagai beban negara dan harus bertanggung jawab terhadap penderitaan yang mereka alami sendiri. Kalangan korban benar-benar menjadi pihak yang dihempaskan karena kekuasaan menjadikan mereka tidak terlihat dan tidak terpikirkan.

Konsep politik disposabilitas tersebut dikemukakan Giroux ketika mengamati pemerintahan George Bush dalam menangani korban-korban Badai Katrina di tahun 2005. Sekian banyak korban, terutama dari kelompok minoritas, sengaja dibiarkan. Para korban bertarung dengan nasib mereka sendiri tanpa perhatian yang mencukupi dari pihak negara.

Hal yang dapat dicatat dari kejadian itu adalah kategori untuk yang terbuang tidak hanya berlaku bagi barang-barang yang bersifat material, melainkan juga kehidupan manusia. Giroux berkesimpulan negara tidak mampu lagi menyajikan mimpi-mimpi bagi bangsa Amerika. Lebih tepat adalah negara tidak bisa melindungi bangsa Amerika dari mimpi-mimpi buruk.

Kemungkinan tidak adil membandingkan penanganan korban Badai Katrina dengan korban-korban bencana di negeri ini. Sejumlah perkakas yang dimiliki negara ini untuk menangani korban yang selamat dan meninggal dunia tidaklah secanggih yang dimiliki bangsa Amerika.

Terlebih lagi medan bencana yang dihadapi memang begitu berlainan. Hanya saja persoalan yang layak diperhatikan adalah aneka bencana sudah berulangkali menimpa negara kita. Lebih dari itu, Indonesia termasuk dalam wilayah yang sangat rawan terkena bencana (ring of fire).

Bukankah itu sudah cukup memberikan kesadaran bagi pejabat negara untuk bertindak responsif? Problem yang juga krusial adalah kepedulian sosial dari kalangan pemain politik ketika berhadapan dengan para korban.

Apakah para korban sungguh-sungguh hendak dibantu ataukah sekadar menjadi barang rongsokan yang sengaja dibuang ketika tidak lagi dibutuhkan? Kenyataan yang terjadi adalah korban-korban bencana dibiarkan, ditinggalkan, serta dilupakan ketika perebutan jabatan politik tidak lagi dipentaskan.

Hasrat kekuasaan
Memberikan bantuan bagi para korban yang dimaksudkan untuk melancarkan pamrih politik senilai dengan meraup kemenangan di atas penderitaan. Pancaran mata yang disorotkan para pemain politik sekadar mengawasi, menyelidiki, dan menikmati penderitaan pihak lain.

Sudah seharusnya tatapan mata sejenis itu, merujuk pemikiran Emmanuel Levinas (1906-1995), digantikan oleh ”mata yang mendengarkan”. Sebab, dalam situasi itulah, korban-korban dibiarkan berbicara dan bukan menjadi objek hasrat kekuasaan belaka. Dan, di situ juga para pemain politik akan mengalami suatu perjumpaan dengan wajah.

Apa yang dimaksud Levinas dengan ”wajah” adalah orang lain dengan serba keberlainannya. Wajah itu merobohkan egoisme karena orang lain bukan diposisikan sebagai alter ego (bukan aku/ego yang digantikan). Dalam situasi sosial yang tertikam bencana, Wajah itu adalah para korban yang benar-benar ingin dibantu dan menyapa para pemain politik supaya membebaskan para korban dari penderitaan.

Bantuan yang diberikan kepada para korban tidak boleh menuntut balas jasa. Memberi bantuan bagi para korban tidak menjadikan para pemain politik mampu meraih keuntungan serta kemanfaatan apa pun. Memang, ada sifat asimetris dalam relasi ini. Sebab, hal yang mendasarinya adalah kewajiban untuk menyelamatkan korban tanpa imbalan.

Imbauan etis ini tidak bisa disuarakan ketika politik disposabilitas menjadi aksi sistemik bagi para korban. Politik disposabilitas, politik yang menjadikan korban sebagai habis manis sepah dibuang, telah menjadi kebenaran yang tidak terbantahkan. Pada saat ini para korban banjir di Wasior menjadi bukti politik disposabilitas sedang dipraktikkan negara. Pada bencana lain, politik disposabilitas pasti digulirkan lagi. f Triyono Lukmantoro, Dosen FISIP Undip

http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=42211&Itemid=62

25 Oktober 2010 - Posted by | Bencana Alam

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: